0

Membangun Masyarakat Resik dan Sehat

KHUTBAH PERTAMA


Arsip izalmuslim

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ النَّظَافَةَ شَطْرًا مِنَ الْإِيمَانِ، وَأَمَرَنَا بِطَهَارَةِ الْأَجْسَامِ وَالْقُلُوبِ وَالْمَكَانِ.

 أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، رَبُّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْخَلَائِقِ أَجْمَعِينَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَطَاعَتِهِ، لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Hadirin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Mengawali khutbah di hari yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan hadirin sekalian: marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan yang tidak hanya bergaung di lisan, tidak sekadar mengendap di dalam pikiran, tetapi mewujud nyata dalam setiap tindakan kita—termasuk dalam cara kita merawat anugerah terbesar dari Allah, yakni tubuh kita dan alam tempat kita hidup.

Pada kesempatan berharga ini, khatib akan menyampaikan khutbah bertema "Membangun Masyarakat Resik dan Sehat". Tema ini sangat relevan. Kita hidup di era di mana fasilitas kesehatan begitu modern, makanan berlimpah ruah, namun ironisnya, rumah sakit tidak pernah sepi dari antrean. Umat Islam rajin mensucikan diri ketika hendak shalat, namun selokan, jalanan, dan lingkungan kita acapkali dipenuhi oleh sampah. Ada "anomali" atau ketidakselarasan antara syariat yang agung dengan praktik umatnya.

Hadirin yang Berbahagia,

Mari kita bedah terlebih dahulu pengertian "Resik" dan "Sehat".

Secara Bahasa: Kata Resik (yang sering kita kenal dari serapan bahasa daerah) memiliki arti bersih, elok, rapi, dan terbebas dari kotoran atau cemaran. Adapun Sehat bermakna keadaan baik secara keseluruhan, terbebas dari penyakit atau kelemahan.

Secara Istilah Syara' (Terminologi Agama): Konsep resik ini bernaung di bawah kata Thaharah yang bermakna mensucikan diri dari hadats (kondisi tidak suci) maupun najis (kotoran fisik). Sedangkan sehat diwakili oleh kata ‘Afiyah, yakni perlamatan secara total, baik jasmani, rohani, maupun keimanan.

Menurut Para Ahli dan Ulama: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merumuskan bahwa "sehat" bukanlah sekadar hilangnya penyakit, melainkan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara utuh. Jauh sebelum rumusan medis modern itu ada, ulama klasik kita dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (Ulama tasawuf dan faqih abad ke-5 Hijriyah), dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin, telah menganalisa kebersihan ke dalam empat dimensi: (1) Membersihkan fisik dan lingkungan dari najis, (2) Membersihkan anggota tubuh dari dosa, (3) Membersihkan hati dari akhlak tercela (penyakit mental/psikologis), dan (4) Membersihkan jiwa dari selain Allah.

Hal ini membuktikan bahwa Islam memandang kebersihan lingkungan dan kesehatan individu sebagai satu kesatuan yang holistik dan tak terpisahkan.

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Allah SWT secara tegas menyatakan kecintaan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa menjaga kebersihan. Termaktub dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 222 (yang dapat kita telaah bersama pada situs NU Online), Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."

Imam Ibnu Katsir, Ahli tafsir masyhur, menjelaskan bahwa ayat ini menyandingkan At-Tawwabin (orang yang membersihkan jiwa dari dosa melalui taubat) dengan Al-Mutathahhirin (orang yang membersihkan raga dari kotoran fisik). Sementara itu, ulama kontemporer terkemuka asal Suriah, Syeikh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, dalam Tafsir Al-Munir, memberikan analisa kritis: ayat ini mengisyaratkan bahwa kebersihan lingkungan dan kebersihan fisik merupakan syarat mutlak meraih ridha Ilahi. Tidak akan sempurna ibadah seseorang jika ia membiarkan dirinya atau sekitarnya kotor.

Bagaimana bentuk implementasinya? Rasulullah SAW telah memberikan kaidah-kaidah pencegahan atau preventive medicine. Dalam urusan kebersihan badan, Imam Bukhari dan Imam Muslim merekam sabda Nabi SAW tentang kewajiban merawat fisik. Imam Muslim meriwayatkan kaidah fundamental:

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

"Bersuci (thaharah) itu adalah setengah dari iman." (HR. Muslim No. 223).

Dan secara spesifik, Imam Bukhari menyoroti pentingnya mandi berkala demi kebersihan publik:

حَقٌّ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَغْتَسِلَ فِي كُلِّ سَبْعَةِ أَيَّامٍ، يَغْسِلُ رَأْسَهُ وَجَسَدَهُ

"Hak Allah atas setiap muslim adalah mandi (setidaknya) pada setiap tujuh hari, ia membasuh kepala dan seluruh tubuhnya." (HR. Bukhari No. 897).

Hadirin yang Dirahmati Allah,

Selain kebersihan fisik, pilar utama dari kesehatan adalah mengatur apa yang masuk ke dalam tubuh kita. Sains medis modern membuktikan bahwa mayoritas penyakit kritis hari ini—seperti diabetes, kolesterol, dan obesitas—bersumber dari rakusnya perut dan buruknya asupan makanan.

1400 tahun yang lalu, Rasulullah SAW telah memberikan solusi yang sangat presisi dan akademis. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari sahabat Miqdam bin Ma'dikarib radhiyallahu 'anhu—terekam jelas dalam kitab Sunan Tirmidzi (No. 2380), Sunan Ibnu Majah (No. 3349), Musnad Ahmad (No. 4132), serta Sunan Abu Dawud—Rasulullah SAW bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

"Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas." Analisa syariat di atas dikuatkan oleh tokoh ulama spesifik di bidang kesehatan Islam, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (Ulama multidisipliner abad ke-8 H) dalam kitabnya Ath-Thibbun Nabawi (Pengobatan Ala Nabi). Beliau menegaskan bahwa membebani lambung melebihi kapasitasnya akan merusak metabolisme tubuh dan mematikan kejernihan berpikir. Sejalan dengan itu, pendiri mazhab kita, Imam Asy-Syafi'i, secara tajam mengutarakan pengalamannya: "Kekenyangan itu membuat badan menjadi berat, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mengundang tidur, dan melemahkan seseorang dari beribadah."

Oleh karena itu, para sahabat Nabi memiliki kedisiplinan fisik yang luar biasa. Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu sangat membenci kemalasan fisik dan perut yang terlalu buncit akibat gaya hidup bermewah-mewahan. Bagi Umar, fisik seorang mukmin haruslah kuat, prima, dan gesit untuk beribadah dan membela agama, bukan lamban karena terbiasa disuapi makanan berlebih dan malas bergerak.

Lantas, Apa Langkah Praktis untuk Kita Saat Ini?

Untuk membangun masyarakat yang resik dan sehat, ada beberapa poin tindakan sistematis yang harus kita terapkan dan kita hindari mulai dari detik ini:

Pada Aspek Lingkungan apa yang mesti lakukan adalah; Menjaga sanitasi rumah dan tempat ibadah, serta disiplin membuang sampah pada tempatnya. Sebaliknya yang harus dijauhi adalah Membuang sampah sembarangan (di sungai, got, jalan) yang mengganggu dan menzalimi masyarakat luas.

Pada Aspek Pola Makan; menerapkan kaidah 1/3 makanan, 1/3 air, 1/3 napas, dan memilih makanan yang halalan thayyiban (bergizi dan aman) serta menerapkan gaya hidup Israf (makan berlebih-lebihan hingga merusak fungsi lambung dan mengundang penyakit kronis).

Pada Aspek Gaya Hidup; Membiasakan tubuh bergerak aktif dan berolahraga secara teratur agar fisik tangguh untuk beribadah dan bekerja serta menjauhi sikap tenggelam dalam kemalasan (al-kasal), kecanduan layar/gawai tanpa diimbangi aktivitas fisik yang memadai.

 

Hadirin yang Berbahagia,

Menjaga tubuh agar tetap sehat, dan lingkungan agar tetap resik, bukanlah sekadar anjuran medis, melainkan Amanah dan wujud ibadah kita kepada Allah. Jika fisik kita sakit karena kelalaian kita mengelola asupan gizi, raga kita akan kesulitan menunaikan shalat dengan sempurna, susah berpuasa, dan menghambat ikhtiar kita dalam mencari nafkah untuk keluarga.

Mari kita niatkan mulai hari ini, kita berhijrah menuju kebiasaan yang lebih baik. Mari kita jadikan lingkungan kita cermin dari indahnya iman di dada kita.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيحِ الْغُرَرِ، مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ، وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Sebagai kesimpulan pada khutbah kedua ini: Kebersihan (resik) adalah pondasi dasar dari terbangunnya tubuh yang sehat. Sementara tubuh jasmani yang sehat adalah modal utama untuk meraih kesuksesan ukhrawi. Buktikanlah keimanan kita dengan tidak merusak tubuh yang dititipkan Allah ini dengan makanan yang sia-sia, dan buktikanlah kedamaian Islam dengan memastikan tetangga serta lingkungan kita aman dari kotoran tangan kita.

Mari kita tundukkan hati sejenak, mengangkat tangan untuk berdoa kepada Sang Pemilik Kesembuhan dan Sang Pemberi Kehidupan, memohon ampunan serta kesehatan bagi umat Islam secara keseluruhan.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah mendahului kami.

 

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِنَا وَدُنْيَانَا وَأَهْلِنَا وَمَالِنَا.

 

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu 'afiyah (kesehatan dan keselamatan yang menyeluruh) di dunia dan akhirat. Karuniakanlah kesehatan pada tubuh kami, kesehatan pada hati kami, serta keberkahan atas keluarga dan harta kami.

 

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ.

Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari penyakit-penyakit yang menakutkan, dari hilangnya akal, serta dari segala wabah yang buruk dan membinasakan.

 رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون

 وَأَقِمِ الصَّلَاة

Daftar Rujukan:

1.    Al-Qur'an dan Terjemahannya: Rujukan teks dan tafsir Surat Al-Baqarah ayat 222

2.    Publikasi ulama di situs islam.nu.or.id

3.    Kompilasi Hadits Sahih: Hadits kewajiban mandi (Bukhari No. 897), tentang kesucian dan iman (Muslim No. 223), serta kaidah menjaga lambung/perut bersumber dari hadits riwayat Miqdam bin Ma'dikarib, dicatat pada Sunan Tirmidzi (No. 2380), Sunan Ibnu Majah (No. 3349), dan Musnad Ahmad (No. 4132), tervalidasi melalui ensiklopedia hadits online di Sunnah.com

4.    Kajian Ulama Klasik & Kontemporer:

§       Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya Ulumuddin (Kitab Asrarut Thaharah).

§  Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. Ath-Thibbun Nabawi (Pembahasan tentang manajemen makan/preventif kedokteran Nabi).

-   Az-Zuhaili, Prof. Dr. Wahbah. Tafsir Al-Munir (Analisis kontemporer fiqh lingkungan dan tata cara menjaga fitrah jasmani)


Baca Dan Lihat Juga Artikel Yang Berkaitan Dengan :

Posting Komentar

 
Top