0

 KHUTBAH JUMAT

Enam Adab Berpuasa Menurut Imam Al-Ghazali


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْنَا صِيَامَ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَجَعَلَهُ طُهْرَةً لِلْقُلُوبِ وَالْأَبْدَانِ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ.

Hadirin jama’ah shalat fardhu/tarawih rahimakumullah,

Alhamdulillah, puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Atas rahmat dan inayah-Nya, kita dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan di tahun 1447 Hijriah ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah

Pada kesempatan yang penuh berkah ini, mari kita sejenak mengevaluasi kualitas ibadah puasa kita. Tema kajian kita kali ini adalah "Enam Adab Berpuasa Menurut Imam Al-Ghazali." Sebelum kita membedah keenam adab tersebut, mari kita pahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan "Adab".

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adab berarti kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan, atau akhlak. Sedangkan secara terminologi syariat, adab adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai dengan ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

Tautan: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/adab

 

Adapun puasa (shiyam) secara bahasa berarti imsak (menahan diri). Jika kita menganalisa kondisi sosiologis umat Islam saat ini, puasa seringkali mengalami degradasi makna. Di era digital ini, puasa kerap kali hanya dimaknai sebagai "perubahan jadwal makan" atau sekadar menahan lapar dan dahaga secara fisik. Padahal, lisan kita masih mudah memaki di media sosial, mata kita masih bebas menatap hal yang diharamkan lewat layar gawai, dan telinga kita masih asyik mendengarkan gosip.

Untuk meningkatkan level puasa kita dari sekadar puasa orang awam menjadi puasa khawash (puasa orang-orang khusus/saleh), Imam Abu Hamid Al-Ghazali—seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang bergelar Hujjatul Islam (pembela Islam), pakar tasawuf dan fiqih abad ke-5 Hijriahdalam kitab maha karyanya Ihya 'Ulumuddin menjelaskan;

Ada enam adab batin yang harus dijaga oleh orang yang berpuasa.

Tautan: https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/6-kewajiban-batin-orang-berpuasa-menurut-imam-al-ghazali-EsvH7

 

Berikut adalah uraiannya:

1.   Menundukkan Pandangan (Ghadhul Bashar).

Adab pertama adalah menahan pandangan dari segala hal yang tercela dan dibenci oleh Allah, serta dari hal-hal yang melalaikan hati dari mengingat Allah. Di zaman modern ini, ujian pandangan bukan hanya di jalanan, melainkan di genggaman tangan kita (smartphone). Menahan diri dari melihat konten-konten yang membuka aurat atau nirfaedah adalah esensi dari puasa mata.

2.   Menjaga Lisan (Hifzhul Lisan)

Puasa mewajibkan kita mengunci lisan dari dusta, ghibah (menggunjing), fitnah, berkata kotor, dan perdebatan yang sia-sia. Hadirin, jejak digital adalah lisan era modern. Berkomentar kasar atau menyebarkan hoaks membatalkan pahala puasa kita.

Hal ini secara tegas diperingatkan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari (Hadits no. 1903):

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan." (HR. Bukhari).

Tautan: https://sunnah.com/bukhari:1903

3. Menjaga Pendengaran (Kaffus Sam'i) Segala hal yang haram diucapkan, maka haram pula untuk didengarkan. Menyengaja mendengarkan orang yang sedang berghibah sama dosanya dengan yang berghibah. Imam An-Nawawi (ulama besar mazhab Syafi'i abad ke-7 H, penulis Riyadhus Shalihin) menegaskan bahwa orang yang berpuasa harus menjadikan telinganya berpuasa dari mendengarkan segala bentuk kemaksiatan.

 

4. Menjaga Anggota Tubuh Lainnya (Kafful Jawarih)

Tangan, kaki, dan perut harus dijaga dari kemaksiatan dan perkara syubhat. Tangan jangan digunakan untuk menzalimi orang lain atau mengambil yang bukan haknya, dan kaki jangan dilangkahkan ke tempat maksiat

Terkait menjaga setiap detail amal dari anggota tubuh, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Zalzalah ayat 7:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." 

Tautan: https://quran.com/99/7

 

Al-Hafizh Ibnu Katsir (ulama ahli tafsir terkemuka abad ke-8 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan ayat ini berlaku ganda: sekecil apa pun kebaikan akan dicatat, dan sekecil apa pun maksiat anggota tubuh saat berpuasa, akan mengurangi nilai ibadah kita di sisi Allah.

Tautan: https://tafsirweb.com/12971-surat-al-zalzalah-ayat-7.html

 

Bahkan, dalam peringatan yang keras, Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah (Hadits no. 1690, dinilai shahih oleh Al-Albani):

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

"Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali hanya rasa lapar (dan dahaga)." (HR. Ibnu Majah).

Tautan: https://sunnah.com/ibnumajah:1690

 

5. Tidak Makan Berlebihan Saat Berbuka

Inilah ironi masyarakat kita. Puasa bertujuan mengekang hawa nafsu, namun saat berbuka (iftar), meja makan berubah menjadi arena balas dendam. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (ulama besar pakar hadits penulis Fathul Bari abad ke-9 H) menyebutkan bahwa tujuan puasa adalah mematahkan syahwat. Bagaimana syahwat bisa patah jika asupan makanan saat malam hari justru lebih banyak dari hari-hari biasa? Berbukalah dengan halal, secukupnya, dan tidak berlebih-lebihan.

 

6. Hati Berada di Antara Harap dan Cemas (Khauf wa Raja')

Adab terakhir, setelah selesai berbuka, hati seorang mukmin harus menggantung di antara rasa takut (khauf) puasanya ditolak karena banyak kelalaian, dan rasa harap (raja') puasanya diterima karena luasnya rahmat Allah. Sikap ini akan mencegah kita dari penyakit ujub (merasa bangga diri telah beribadah).

 

Kesimpulan

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Sebagai kesimpulan, puasa Ramadhan 1447 H ini harus menjadi momentum perbaikan kualitas diri.

Mari kita catat dan praktikkan enam adab Imam Al-Ghazali ini:

1.    Tundukkan pandangan dari hal-hal yang haram.

2.    Jaga lisan dan jari-jemari dari menyakiti orang lain.

3.    Tutup pendengaran dari perkataan yang sia-sia.

4.    Kendalikan anggota tubuh agar selalu dalam ketaatan sekecil apa pun (seberat dzarrah).

5.    Sederhana saat berbuka, jangan jadikan Ramadhan bulan pesta makanan.

6.    Ikat hati dengan khauf dan raja' kepada Allah.

Semoga puasa kita tahun ini tidak hanya menghasilkan rasa lapar dan dahaga, tetapi benar-benar melahirkan karakter muttaqin (orang yang bertakwa) yang sejati. Mari kita tundukkan hati, bermunajat kepada Allah SWT.

 

Do'a

 

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Hamdan syakirin, hamdan na'imin. Ya rabbana lakal hamdu kama yanbaghi lijalali wajhikal karimi wa 'azhimi sultanik. Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in.

Ya Allah, wahai Dzat Yang Maha Menatap setiap relung hati hamba-Nya. Di bulan Ramadhan yang agung ini, kami bersimpuh di hadapan-Mu dengan membawa kelemahan-kelemahan kami.

 

Ya Rabb, ampunilah kami jika selama ini puasa kami hanyalah puasa fisik belaka. Berikanlah kami kekuatan untuk menundukkan pandangan kami dari apa yang Engkau murkai. Kunci lisan kami dari menyakiti saudara kami, dan sucikanlah pendengaran kami dari hal-hal yang sia-sia.

 

Ya Allah, jadikanlah setiap anggota tubuh ini saksi ketaatan kami di akhirat kelak, sekecil apa pun ketaatan itu. Hindarkanlah kami dari sifat rakus terhadap dunia, dan jadikanlah hati kami senantiasa bergantung penuh harap akan rahmat-Mu dan takut akan azab-Mu.

 

Ya Rahman, terimalah puasa kami, ruku' kami, sujud kami, dan air mata kami di bulan suci ini. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang kembali fitrah dan layak meraih surga Ar-Rayyan yang telah Engkau janjikan.

 

Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina 'adzabannar. Subhana rabbika rabbil 'izzati 'amma yashifun, wasalamun 'alal mursalin, walhamdulillahi rabbil 'alamin.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

By; Izal muslim

 


Baca Dan Lihat Juga Artikel Yang Berkaitan Dengan :

Posting Komentar

 
Top